Monthly Archives: September 2011

JEJAK SANG KYAI

Pada tahun 1967, guna mengemban amanah sebagai PNS guru agama, ia diberi tugas di MI Muhammadiyah Madureso-Kuwarasan-Kebumen. Pak Darsan, Kepala MI Muhammadiyah Madureso saat itu sering mengajak diskusi dengan Bapak Maftuh. Pak Darsan yang seorang aktifis Muhammadiyah juga sering memberi buku-buku karya Prof. Dr. Hamka seperti buku Tafsir Al Azhar, buku-buku hadits, uraian-uraian Dr. Hamka. Disamping buku-buku karya Prof. Dr. Hamka, Pak Darsan juga sering meminjami buku-buku tentang persyarikatan Muhammadiyah kepada pak Maftuh seperti buku karya KH. Mas Mansur, 12 langkah Muhammadiyah dll. Setiap hari buku-buku tersebut dibaca oleh pak Maftuh tanpa bosan. Berangkat dari hal tersebut, dengan keyakinan penuh beliau bisa menerima paham agama yang didakwahkan oleh Muhammadiyah. Dan perlahan namun pasti beliau belajar menjadi kader Muhammadiyah. Seorang santri yang terlahir di Kebumen 8 Agustus 1948 yang lalu ini, akhirnya menjadi kader Muhammadiyah yang militan. Meski terlahir di lingkungan keluarga NU kental.

Sebelumnya, baliau sudah menaruh simpati terhadap Muhammadiyah. Pernah suatu saat ketika beliau menjadi aktifis IPNU. Suatu hari IPNU hendak mengikuti lomba drum band di Kebumen. Karena tidak memiliki peralatan drum band maka IPNU berusaha meminjam drum band milik pemuda Anshar. Namun hasilnya di luar dugaan, ternyata drum band tidak bisa dipinjam untuk lomba. Oleh karena itu, dengan sangat terpaksa beliau meminjam peralatan drum band kepada PCM Kutowinangun dan diijinkan. Mulai saat itulah Kyai T. Al Maftuh, BA demikian nama lengkapnya menaruh hormat dan tertarik kepada Muhammadiyah.

PEMUDA MUHAMMADIYAH DAN JORNA BAND MEMPELOPORI NGOBBROL BARENG BERSAMA PAKAR

Gombong, group musik kentongan Jorna Band dikomando oleh Suratno (Pak Nano) Ketua Ranting Muhammadiyah Klopogodo baru saja tampil dalam acara ngobrol bersama pakar yang bertema “orang miskin dilarang sekolah”. Dilaksanakan pada Sabtu 24/9 bertempat di kediaman Ust. Mundir Hasan, S.Pd Gang Bogowonto-Wero. Acara ini dipelopori oleh Ust. Mundir Hasan dan didukung oleh Pemuda Muhammadiyah Gombong.

Acara ini diikuti oleh orang-orang pinggiran seperti petani, kuli bangunan, penarik becak dan para “mustadl’afin “ lainnya. Selain itu, hadir pula dari kalangan guru, mahasiswa dan aktifis ormas. Mundir Hasan mengatakan, acara ini dimaksudkan untuk mencerdaskan orang-orang pinggiran dengan metode yang nyantai dan menyenangkan. Sehingga meski semuanya lelah ngobrol-ngobrol gayem terus sampai tidak terasa waktu menunjukan jam 23.30 WIB. Acara ini direncanakan akan rutin dilakukan setiap bulan pada malam Ahad ke empat.